Pendidikan

John Doe

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit .
Erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper.

  • 3066 Stone Lane, Wayne, Pennsylvania.
  • +610-401-6021, +610-401-6022
  • admin@mydomain.com
  • www.yourdomain.com
Me

My Professional Skills

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

Web Design 90%
Web Development 70%
App Development 95%
Wordpress 60%

Awesome features

Aliquam commodo arcu vel ante volutpat tempus. Praesent pulvinar velit at posuere mollis. Quisque libero sapien.

Animated elements

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed tempus cursus lectus vel pellentesque. Etiam tincidunt.

Responsive Design

Pellentesque ultricies ligula a libero porta, ut venenatis orci molestie. Vivamus vitae aliquet tellus, sed mollis libero.

Modern design

Duis ut ultricies nisi. Nulla risus odio, dictum vitae purus malesuada, cursus convallis justo. Sed a mi massa dolor.

Retina ready

Vivamus quis tempor purus, a eleifend purus. Ut sodales vel tellus vel vulputate. Fusce rhoncus semper magna.

Fast support

Suspendisse convallis sem eu ligula porta gravida. Suspendisse potenti. Lorem ipsum dolor sit amet, duis omis unde elit.

0
completed project
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • Hari Ini Aku Bebas Dari Sekolah


    Rasa senang dan bahagia terpancar dari wajah siswa dan siswi SMA pada hari ini, tanggal 2 Mei 2019. Gelak tawa dan canda terus terlihat mungkin sampai esok hari, memang kelulusan adalah hal yang sangat ditunggu oleh setiap siswa. Euforia kelulusan yang selalu ditunggu-tunggu ada di depan mata seperti akhir dari perjuangan yang sangat panjang telah ditempuh.

    Ya, sangat panjang perlu memakan banyak sekali waktu dan tenaga. Tak aneh ketika siswa-siswi sangat gembira dan menuangkan kegembiraan mereka kepada apa pun yang ada.

    Euforia kelulusan adalah hal yang biasa kita temui setiap tahunnya, namun penggambaran untuk fenomena yang terjadi saat ini sangat tepat dijelaskan dengan pribahasa Sunda seperti ini, “aya kuda leupas ti gedogan” atau dalam Bahasa Indonesia “ada kuda lepas dari kandangnya”.

    Peribahasa tersebut mewakili anak-anak SMA kita hari ini, di hari Pendidikan Nasional dan hari kelulusan mereka. Mereka seperti keluar dari penjara yang sangat mengerikan, keluar dari semacam sistem yang membuat mereka bisa segembira ini saat keluar dari dalamnya. Foucault bilang si ada panoptikon yang membuat diri merasa selalu tertekan dan diawasi, nah fenomena kelulusan adalah kematian panoptikon sekolah. Mereka dapat bebas dari tekanan sekolah.

    Banyak cara dilakukan oleh siswa-siswi saat kelulusan sekolah yang sebenarnya setiap tahun kita mengalami seperti itu, atau mungkin ketika kita lulus dahulu pernah melakukan hal yang sama dengan hari ini.

    Ada yang melakukan selebrasi dengan mencorat-coret baju, corat-coret tembok, ada yang menggunting bajunya sendiri, ada yang di sumbangkan, ada juga yang melakukan selebrasi touring motor mengelilingi kota untuk memperlihatkan kepada khalayak karena mereka sudah lulus.
    Namun, ketika kita perhatikan secara lebih dalam fenomena kelulusan SMA yang terjadi adalah sebuah anomali yang terjadi di kehidupan kita ini. Pertanyaan yang sering keluar dari banyak orang adalah “kenapa mereka melakukan itu?”. Pertanyaan sederhana yang dapat membedah banyak sekali kebenaran dari sistem pendidikan kita ini.

    Langkah pertama yang dapat kita lakukan untuk menjawab pertanyaan itu adalah dengan kembali bertanya tentang bagaimana pendidikan di Indonesia berjalan. Pertanyaan seperti itu akan menuntun sejauh mana pendidikan di Indonesia dapat membentuk siswa dan siswi yang unggul, memiliki moral dan etika yang baik.

    Namun, kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya, moral dan perilaku siswa tidak mencerminkan mereka yang berpendidikan. Banyak kasus yang mencatat siswa menampar gurunya, kasus memperkosa, membunuh, sampai hal yang paling kecil dan pasti semua siswa melakukannya adalah melawan kepada orang tua, berbohong, dan banyak sekali hal yang menandai dekadensi moral di kehidupan kita.

    Salah satu fungsi pendidikan adalah membentuk moral yang baik yang sesuai dengan nilai dan norma yang ada atau dalam kata lain menuntun ke arah yang baik, bukan malah membuat banyak manusia yang tidak bermoral.

    Kedua, adalah ketidakmampuan sistem pendidikan untuk membentuk siswa yang pintar dan dapat mencipta. Kenyataan yang terjadi adalah penyeragaman pemikiran manusia. Cita-cita besar Pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa akan selesai ketika pemikiran kita diselaraskan, karena keunikan dari setiap individu akan hilang, tinggal menunggu mereka menjadi tak berguna saja.

    Penyeragaman pikiran adalah sebuah langkah yang salah dalam proses pendidikan. Kurikulum yang tidak bermutu akan berdampak kepada siswa tidak mendapatkan sesuatu yang posistif untuk kehidupannya. Penyeragaman pemikiran dengan kurikulum sangat tergambar jelas dengan kurikulum nasional yang wajib dipelajari oleh setiap siswa yang mana kenyataanya kurikulum tersebut pula yang membuat anak menjadi tidak berkembang.

    Penyeragaman pemikiran dengan kurikulum nasional hanya mencetak pekerja yang unggul, bukan pencipta yang unggul. Mereka hanya mengerti apa yang wajib dipelajari tanpa tahu kegunaannya apa dan bagaimana menerapkannya.

    Kurikulum nasional juga menjauhkan diri siswa dengan tempat mereka hidup, mereka asing dengan daerahnya sendiri, mereka tak peduli dengan daerahnya sendiri, mereka masa bodoh dengan daerahnya sendiri, dan mereka pergi dari daerahnya sendiri, karena mereka tak paham bagaimana dapat hidup di daerahnya sendiri. Mereka hanya belajar kurikulum nasional yang jauh dari mengenal daerahnya sendiri.

    Langkah kedua adalah bertanya kembali tentang sisitem pendidikan Indonesia yang menjadikan setiap anak didiknya sangat bergembira keluar dari sistem tersebut. Analogi sederhana terkait sistem pendidikan sekarang ini seperti menonton Ketoprak yang membosankan, penonton tidak terkesan dan segera ingin pulang.

    Pesan moral atau inti dari ceritanya tidak tersampaikan karena mereka menganggap pementasan itu tidak membuat menarik perhatiannya. Sama dengan sistem pendidikan sekarang yang sangat membosankan dan membuat jenuh para peserta didik. Dari delapan jam pelajaran di sekolah mungkin hanya sekitar dua puluh persen yang mereka serap dan itu pun yang mereka senangi atau tidak sengaja mereka anggap itu menarik.

    Hal tersebut dapat dilihat dari antusias peserta didik ketika mendengar suara bel istirahat berbunyi, mereka gembira bukan main. Ditambah dengan guru yang sakit atau ada keperluan sehingga tidak pembelajaran di kelas merea bergembira bukan main sesampai membuat kegaduhan dengan memukul-mukul meja dan sorak-sorai pun menandakan bahwa mereka bosan berada di kelas.
    Satu yang sangat menyedihkan hati, mereka sangat antusias merusak seragam mereka dan merayakan perayaan lulus dari sekolah yang terlihat sangat membenci sekolahnya sendiri. Touring yang mengganggu jalanan dan menandakan asal sekolah mereka yang akan menyebabkan kredibilitas dan nama dari institusi merosot. Bahkan mereka secara tidak sadar mencoreng nama sekolahnya sendiri ketika lulus. Seantusias itu para siswa untuk lepas dari institusi sekolah.

    Peribahasa Bahasa Sunda di atas dapat menjelaskan betapa bobroknya sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Kuda yang lepas dari istal tak semata menjelaskan langkah yang akan mereka ambil setelah sekolah, namun dapat dipahami sebobrok apa tempat yang ditinggali si kuda sampai-sampai dia sangat senang dan bahagia dapat meninggalkan tempat yang seharusnya menjadi rumahnya, menjadi ruang untuk mereka belajar dan berilmu.

    Mereka bukan lupa dengan sekolah, dengan segala pembelajaran yang ada di sekolah, namun mesti diingat oleh semuanya, manusia ketika tertekan dan tidak enak hati ada di suatu ruang atau keadaan tertentu akan senang dan gembira ketika tidak akan lagi bertemu dengan hal yang mereka tidak senangi.

    Orientasi pemikiran kita melihat selebrasi kelulusan teman-teman siswa dan siswi harus diarahkan bukan untuk siswa yang melakukan hal tersebut. Mereka tidak sepenuhnya salah melakukan selebrasi yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berkembang di masyarakat.

    Mereka hanya melakukan selebrasi karena mereka lulus, dan ketika tidak sesuai dengan norma dan nilai, yang harus ditanyakan adalah kenapa mereka seperti itu? Kemana peran dari sekolah? Dan mengapa mereka bisa seperti itu? Sistem Pendidikan harus bertanggung jawab atas fenomena yang terjadi. Mereka hanya senang keluar dari kegilaan ini, keluar dari tekanan sekolah.

    Sistem pendidikan sudah seharusnya mengganti usangnya sistem. Sudah seharusnya mengganti apa yang sudah dianggap menjadi status quo. Sistem pendidikan Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang ditanamkan Ki Hajar Dewantara dengan slogan yang selalu dipakai di lambang dan logo berbagai instansi pendidikan, sudah seharusnya mengganti apa yang di dalamnya sesuai amanat Bapak Pendidikan Indonesia.

    Pendidikan itu harus seperti taman, menyenangkan dan nyaman, hanya karena itu manusia bisa menyerap ilmu sedalam-dalamnya. Tidak ada amanat dari bapak Pendidikan Indonesia untuk membuat Pendidikan yang membosankan bahkan hanya berorientasi bekerja.

    Selamat Hari Pendidikan Nasional!
  • Kembali Kepemberdayaan: Menjalankan Fungsi Menancapkan Kaki

    Pasca reformasi, eufhoria demokrasi mulai meluap-luap. Berkali-kali jalan selalu ramai oleh para demostran, tak lain adalah mahasiswa yang selalu menuntut keadilan dan kesejahteraan di negeri ini. Dengan bendera yang berkibar, suara yang terus mengkritik pemerintahan, mereka merasa puas lalu selesai dan pulang tanpa menyelesaikan apapun. Harus diakui, beginilah kondisi aktifis kampus sekarang, ditengah kebebasan berbicara isu atau permasalahan sosial hanya menjadi bahan obrolan keseharian bak gaya hidup belaka.

    Ironi memang, disatu sisi mahasiswa terlalu pintar untuk menjelaskan kebobrokan negeri dari A sampai Z. Membicarakan ketidakadilan, penghisapan dan pemiskinan rakyat bukanlah hal yang sulit bagi mahasiswa, bahkan dapat dijelaskan diluar kepala. Disisi lainnya, mahasiswa malah semakin menjauhi rakyat yang dibelanya. Sebagian besar hanya mengetahui kondisi rakyat dari buku, Jurnal dan internet.  Mahasiswa mulai terasing karena pikirannya sendiri  dan akhirnya juga terasing oleh lingkungan sosialnya, dalam keseluruhan proses ternyata kita terlalu asik sendiri, melupakan hal yang paling penting dalam perubahan sosial yakni partisipasi masyarakat.

    Ada yang perlu ditegaskan, harus diakui bahwa melakukan aksi turun kejalan sangatlah mulia namun hal tersebut merupakan cara yang terlalu praktis bahkan pragmatis bila akhirnya orientasi organisasi mahasiswa hanya pada pencapaian citra atau penyaluran hasrat aktifisme saja. Jelas ini terjadi. Dapat dilihat dari kesetiaan kita untuk mengawal issu yang diperjuangkan, ternyata mahasiswa tidak memiliki militansi terhadap momentum yang mereka ciptakan untuk mengontrol issu dengan cara demonstrasi, atau jangan-jangan hanya menjadi ritual saja, menunjukan bahwa kita mahasiswa.

    Dan pada titik ini mahasiswa harus jujur, ternyata dalam barisan gerakan sosial yang kita bangun tidak terlihat satu pun orang yang berasal dari elemen masyarakat akar rumput. Sekiranya menjadi bukti kegagalan gerakan mahasiswa yang tidak mampu membangun partispasi masyarakat untuk ikut serta dalam perjuangan. Padahal, kekuatan utama perubahan adalah pada seluruh rakyat, bukan mahasiswa yang terlalu narsis mengklaim diri sebagai agen perubahan—ini sebuah kekeliruan luar biasa.

    Persoalan utamanya adalah bagaimana akhirnya kita mampu merubah metode gerakan mahasiswa agar tidak mengalami titik buta dan hanya terjebak pada gerakan yang bersifat serimonial saja, dengan terus melakukan pengorganisiran, memperbesar massa rakyat yang sadar. Sayangnya, banyak dari gerakan mahasiswa yang luput memahami perannya dalam ranah membangun kesadaran kritis dan kemandirian masyarakat. Mengapa ini menjadi penting?

    Menurut  pemikir asal Italia, Antonio Gramsci, untuk menghadapi fenomena demikian, ia menawarkan adanya blok solidaritas. Mekanismenya dengan menggalang kekuatan dari kaum intelektual yang memiliki sikap dan visi dalam mewujudkan kemerdekaan masyarakat. Dalam kasus ini, Gramci membedakan dua corak intelektual. Pertama, adalah intelektual yang dekat dengan kekuasaan dan tunduk pada rezim. Intelektual demikian, lebih dikenal dengan sebutan  intelektual tradisional yang sebenarnya secara faktual, merekalah biang dari kesengsaran rakyat dengan cara memanipulasi sistem sosial dan politik. Kedua,  yang dikenal sebagai intelektual organik, yaitu para intelektual atau filsuf yang turun dari “menara gading” dan menancapkan kakinya di akar rumput, bergabung dengan masyarakat untuk menjalankan tugasnya membangkitkan kesadaran masyarakat dari kekuatan hegemonik yang sangat manipulatif dengan cara memberi pendidikan kutural dan politik dalam bahasa keseharian.

    Renungan Gramsci  banyak benarnya, bahwa semua orang adalah intelektual namun tidak semua intelektual menjalankan fungsinya. Hal demikian terjadi pada agen intelektual kita, aktifis kampus yang tidak sadar fungsinya hanya merasa cukup menjadi “Intelektual buatan” yang hanya terlihat sok-intelek di mata masyarakat. Seharusnya, tugas dari mahasiswa sebagai kaum intelektual adalah memperkuat posisi masyarakat sipil untuk mengakumulasi kekuatan blok solidaritas, yaitu masyarakat yang memiliki kesadaran kritis atas kondisi sosial,ekonomi dan politik dalam memperjuangkan hak-haknya sebagai masyarakat.

    Kembali kepemberdayaan, hanya ini cara bagaimana membuat mahasiswa dan masyarakat bersinergi agar kedua elemen tersebut tidak terasing antara satu dengan yang lainnya. Jadi, seorang aktifis haruslah intelektual yang menjalankan fungsinya bukan hanya berslogan di tepi jalan, ia juga harus terjun di lapangan dimana masyarakat jelas-jelas paling mengerti bagaimana kondisi kehidupannya. Lebih baik, mereka yang mau membela rakyat harus ingat sejak awal bahwa menjadi aktifis mahasiswa bukanlah hobi yang bisa saja berubah-ubah tergantung selera  atau perkerjaan yang penuh popularitas dan keberuntungan. Maka hal yang paling mendasar sekali dengan melakukan pemberdayaan masyarakat dalam hal apapun akan membuat aktifis mahasiswa memiliki padangan kerakyatan dan tanggung jawab sosial yang lebih besar karena mereka benar-benar terlibat langsung dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.

    Pengalaman dan berbagai cerita terkait pemberdayaan memang menunjukan bahwa proses tersebut sangatlah melelahkan. Tidak semudah melakukan aksi yang hanya kelar sehari. Pemberdayaan membutuhkan waktu yang lama, membangun kesadaran masyarakat agar paham betul akan hak-haknya sebagai warganegara tak semudah bertepuk tangan. Logis kiranya, bila ada perjuangan disaat bersamaan pasti ada pengorbanan. Namun, bila mahasiswa melakukan pemberdayaan membangun kesadaran msayarakat sebagai ujung tombak dari gerakan sosialnya, jangankan aksi pengerahan massa berskala besar untuk mendukung penolakan kebijakan yang tidak pro-rakyat bahkan meminjam perkataan Anies Baswedan, masyarakat sendirilah nantinya yang akan melakukan perjuangan menuntut pemerintah melunasi janji kemerdekaan.

    Maka, masih ingikah anda menjadi aktifis mahasiswa yang menjalankan fungsinya melalui pemberdayaan masyarakat? Mengingat sastrawan Pramoedya Anata Toer, ia berkata, “seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sejak dalam pikirannya, apalagi perbuatannya.” Berdasarkan perkatanya, rasanya tidak adil bila kita tidak menjalankan fungsi intelektual. padahal aktifis mahasiswa bisa kuliah pun karena disubsidi dari keringat rakyat.
     
    --
    Wildanshah
    (Founder Bhinneka Ceria

    GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13