• Hari Ini Aku Bebas Dari Sekolah


    Rasa senang dan bahagia terpancar dari wajah siswa dan siswi SMA pada hari ini, tanggal 2 Mei 2019. Gelak tawa dan canda terus terlihat mungkin sampai esok hari, memang kelulusan adalah hal yang sangat ditunggu oleh setiap siswa. Euforia kelulusan yang selalu ditunggu-tunggu ada di depan mata seperti akhir dari perjuangan yang sangat panjang telah ditempuh.

    Ya, sangat panjang perlu memakan banyak sekali waktu dan tenaga. Tak aneh ketika siswa-siswi sangat gembira dan menuangkan kegembiraan mereka kepada apa pun yang ada.

    Euforia kelulusan adalah hal yang biasa kita temui setiap tahunnya, namun penggambaran untuk fenomena yang terjadi saat ini sangat tepat dijelaskan dengan pribahasa Sunda seperti ini, “aya kuda leupas ti gedogan” atau dalam Bahasa Indonesia “ada kuda lepas dari kandangnya”.

    Peribahasa tersebut mewakili anak-anak SMA kita hari ini, di hari Pendidikan Nasional dan hari kelulusan mereka. Mereka seperti keluar dari penjara yang sangat mengerikan, keluar dari semacam sistem yang membuat mereka bisa segembira ini saat keluar dari dalamnya. Foucault bilang si ada panoptikon yang membuat diri merasa selalu tertekan dan diawasi, nah fenomena kelulusan adalah kematian panoptikon sekolah. Mereka dapat bebas dari tekanan sekolah.

    Banyak cara dilakukan oleh siswa-siswi saat kelulusan sekolah yang sebenarnya setiap tahun kita mengalami seperti itu, atau mungkin ketika kita lulus dahulu pernah melakukan hal yang sama dengan hari ini.

    Ada yang melakukan selebrasi dengan mencorat-coret baju, corat-coret tembok, ada yang menggunting bajunya sendiri, ada yang di sumbangkan, ada juga yang melakukan selebrasi touring motor mengelilingi kota untuk memperlihatkan kepada khalayak karena mereka sudah lulus.
    Namun, ketika kita perhatikan secara lebih dalam fenomena kelulusan SMA yang terjadi adalah sebuah anomali yang terjadi di kehidupan kita ini. Pertanyaan yang sering keluar dari banyak orang adalah “kenapa mereka melakukan itu?”. Pertanyaan sederhana yang dapat membedah banyak sekali kebenaran dari sistem pendidikan kita ini.

    Langkah pertama yang dapat kita lakukan untuk menjawab pertanyaan itu adalah dengan kembali bertanya tentang bagaimana pendidikan di Indonesia berjalan. Pertanyaan seperti itu akan menuntun sejauh mana pendidikan di Indonesia dapat membentuk siswa dan siswi yang unggul, memiliki moral dan etika yang baik.

    Namun, kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya, moral dan perilaku siswa tidak mencerminkan mereka yang berpendidikan. Banyak kasus yang mencatat siswa menampar gurunya, kasus memperkosa, membunuh, sampai hal yang paling kecil dan pasti semua siswa melakukannya adalah melawan kepada orang tua, berbohong, dan banyak sekali hal yang menandai dekadensi moral di kehidupan kita.

    Salah satu fungsi pendidikan adalah membentuk moral yang baik yang sesuai dengan nilai dan norma yang ada atau dalam kata lain menuntun ke arah yang baik, bukan malah membuat banyak manusia yang tidak bermoral.

    Kedua, adalah ketidakmampuan sistem pendidikan untuk membentuk siswa yang pintar dan dapat mencipta. Kenyataan yang terjadi adalah penyeragaman pemikiran manusia. Cita-cita besar Pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa akan selesai ketika pemikiran kita diselaraskan, karena keunikan dari setiap individu akan hilang, tinggal menunggu mereka menjadi tak berguna saja.

    Penyeragaman pikiran adalah sebuah langkah yang salah dalam proses pendidikan. Kurikulum yang tidak bermutu akan berdampak kepada siswa tidak mendapatkan sesuatu yang posistif untuk kehidupannya. Penyeragaman pemikiran dengan kurikulum sangat tergambar jelas dengan kurikulum nasional yang wajib dipelajari oleh setiap siswa yang mana kenyataanya kurikulum tersebut pula yang membuat anak menjadi tidak berkembang.

    Penyeragaman pemikiran dengan kurikulum nasional hanya mencetak pekerja yang unggul, bukan pencipta yang unggul. Mereka hanya mengerti apa yang wajib dipelajari tanpa tahu kegunaannya apa dan bagaimana menerapkannya.

    Kurikulum nasional juga menjauhkan diri siswa dengan tempat mereka hidup, mereka asing dengan daerahnya sendiri, mereka tak peduli dengan daerahnya sendiri, mereka masa bodoh dengan daerahnya sendiri, dan mereka pergi dari daerahnya sendiri, karena mereka tak paham bagaimana dapat hidup di daerahnya sendiri. Mereka hanya belajar kurikulum nasional yang jauh dari mengenal daerahnya sendiri.

    Langkah kedua adalah bertanya kembali tentang sisitem pendidikan Indonesia yang menjadikan setiap anak didiknya sangat bergembira keluar dari sistem tersebut. Analogi sederhana terkait sistem pendidikan sekarang ini seperti menonton Ketoprak yang membosankan, penonton tidak terkesan dan segera ingin pulang.

    Pesan moral atau inti dari ceritanya tidak tersampaikan karena mereka menganggap pementasan itu tidak membuat menarik perhatiannya. Sama dengan sistem pendidikan sekarang yang sangat membosankan dan membuat jenuh para peserta didik. Dari delapan jam pelajaran di sekolah mungkin hanya sekitar dua puluh persen yang mereka serap dan itu pun yang mereka senangi atau tidak sengaja mereka anggap itu menarik.

    Hal tersebut dapat dilihat dari antusias peserta didik ketika mendengar suara bel istirahat berbunyi, mereka gembira bukan main. Ditambah dengan guru yang sakit atau ada keperluan sehingga tidak pembelajaran di kelas merea bergembira bukan main sesampai membuat kegaduhan dengan memukul-mukul meja dan sorak-sorai pun menandakan bahwa mereka bosan berada di kelas.
    Satu yang sangat menyedihkan hati, mereka sangat antusias merusak seragam mereka dan merayakan perayaan lulus dari sekolah yang terlihat sangat membenci sekolahnya sendiri. Touring yang mengganggu jalanan dan menandakan asal sekolah mereka yang akan menyebabkan kredibilitas dan nama dari institusi merosot. Bahkan mereka secara tidak sadar mencoreng nama sekolahnya sendiri ketika lulus. Seantusias itu para siswa untuk lepas dari institusi sekolah.

    Peribahasa Bahasa Sunda di atas dapat menjelaskan betapa bobroknya sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Kuda yang lepas dari istal tak semata menjelaskan langkah yang akan mereka ambil setelah sekolah, namun dapat dipahami sebobrok apa tempat yang ditinggali si kuda sampai-sampai dia sangat senang dan bahagia dapat meninggalkan tempat yang seharusnya menjadi rumahnya, menjadi ruang untuk mereka belajar dan berilmu.

    Mereka bukan lupa dengan sekolah, dengan segala pembelajaran yang ada di sekolah, namun mesti diingat oleh semuanya, manusia ketika tertekan dan tidak enak hati ada di suatu ruang atau keadaan tertentu akan senang dan gembira ketika tidak akan lagi bertemu dengan hal yang mereka tidak senangi.

    Orientasi pemikiran kita melihat selebrasi kelulusan teman-teman siswa dan siswi harus diarahkan bukan untuk siswa yang melakukan hal tersebut. Mereka tidak sepenuhnya salah melakukan selebrasi yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berkembang di masyarakat.

    Mereka hanya melakukan selebrasi karena mereka lulus, dan ketika tidak sesuai dengan norma dan nilai, yang harus ditanyakan adalah kenapa mereka seperti itu? Kemana peran dari sekolah? Dan mengapa mereka bisa seperti itu? Sistem Pendidikan harus bertanggung jawab atas fenomena yang terjadi. Mereka hanya senang keluar dari kegilaan ini, keluar dari tekanan sekolah.

    Sistem pendidikan sudah seharusnya mengganti usangnya sistem. Sudah seharusnya mengganti apa yang sudah dianggap menjadi status quo. Sistem pendidikan Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang ditanamkan Ki Hajar Dewantara dengan slogan yang selalu dipakai di lambang dan logo berbagai instansi pendidikan, sudah seharusnya mengganti apa yang di dalamnya sesuai amanat Bapak Pendidikan Indonesia.

    Pendidikan itu harus seperti taman, menyenangkan dan nyaman, hanya karena itu manusia bisa menyerap ilmu sedalam-dalamnya. Tidak ada amanat dari bapak Pendidikan Indonesia untuk membuat Pendidikan yang membosankan bahkan hanya berorientasi bekerja.

    Selamat Hari Pendidikan Nasional!
  • 0 komentar:

    Posting Komentar

    GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13