• Kembali Kepemberdayaan: Menjalankan Fungsi Menancapkan Kaki

    Pasca reformasi, eufhoria demokrasi mulai meluap-luap. Berkali-kali jalan selalu ramai oleh para demostran, tak lain adalah mahasiswa yang selalu menuntut keadilan dan kesejahteraan di negeri ini. Dengan bendera yang berkibar, suara yang terus mengkritik pemerintahan, mereka merasa puas lalu selesai dan pulang tanpa menyelesaikan apapun. Harus diakui, beginilah kondisi aktifis kampus sekarang, ditengah kebebasan berbicara isu atau permasalahan sosial hanya menjadi bahan obrolan keseharian bak gaya hidup belaka.

    Ironi memang, disatu sisi mahasiswa terlalu pintar untuk menjelaskan kebobrokan negeri dari A sampai Z. Membicarakan ketidakadilan, penghisapan dan pemiskinan rakyat bukanlah hal yang sulit bagi mahasiswa, bahkan dapat dijelaskan diluar kepala. Disisi lainnya, mahasiswa malah semakin menjauhi rakyat yang dibelanya. Sebagian besar hanya mengetahui kondisi rakyat dari buku, Jurnal dan internet.  Mahasiswa mulai terasing karena pikirannya sendiri  dan akhirnya juga terasing oleh lingkungan sosialnya, dalam keseluruhan proses ternyata kita terlalu asik sendiri, melupakan hal yang paling penting dalam perubahan sosial yakni partisipasi masyarakat.

    Ada yang perlu ditegaskan, harus diakui bahwa melakukan aksi turun kejalan sangatlah mulia namun hal tersebut merupakan cara yang terlalu praktis bahkan pragmatis bila akhirnya orientasi organisasi mahasiswa hanya pada pencapaian citra atau penyaluran hasrat aktifisme saja. Jelas ini terjadi. Dapat dilihat dari kesetiaan kita untuk mengawal issu yang diperjuangkan, ternyata mahasiswa tidak memiliki militansi terhadap momentum yang mereka ciptakan untuk mengontrol issu dengan cara demonstrasi, atau jangan-jangan hanya menjadi ritual saja, menunjukan bahwa kita mahasiswa.

    Dan pada titik ini mahasiswa harus jujur, ternyata dalam barisan gerakan sosial yang kita bangun tidak terlihat satu pun orang yang berasal dari elemen masyarakat akar rumput. Sekiranya menjadi bukti kegagalan gerakan mahasiswa yang tidak mampu membangun partispasi masyarakat untuk ikut serta dalam perjuangan. Padahal, kekuatan utama perubahan adalah pada seluruh rakyat, bukan mahasiswa yang terlalu narsis mengklaim diri sebagai agen perubahan—ini sebuah kekeliruan luar biasa.

    Persoalan utamanya adalah bagaimana akhirnya kita mampu merubah metode gerakan mahasiswa agar tidak mengalami titik buta dan hanya terjebak pada gerakan yang bersifat serimonial saja, dengan terus melakukan pengorganisiran, memperbesar massa rakyat yang sadar. Sayangnya, banyak dari gerakan mahasiswa yang luput memahami perannya dalam ranah membangun kesadaran kritis dan kemandirian masyarakat. Mengapa ini menjadi penting?

    Menurut  pemikir asal Italia, Antonio Gramsci, untuk menghadapi fenomena demikian, ia menawarkan adanya blok solidaritas. Mekanismenya dengan menggalang kekuatan dari kaum intelektual yang memiliki sikap dan visi dalam mewujudkan kemerdekaan masyarakat. Dalam kasus ini, Gramci membedakan dua corak intelektual. Pertama, adalah intelektual yang dekat dengan kekuasaan dan tunduk pada rezim. Intelektual demikian, lebih dikenal dengan sebutan  intelektual tradisional yang sebenarnya secara faktual, merekalah biang dari kesengsaran rakyat dengan cara memanipulasi sistem sosial dan politik. Kedua,  yang dikenal sebagai intelektual organik, yaitu para intelektual atau filsuf yang turun dari “menara gading” dan menancapkan kakinya di akar rumput, bergabung dengan masyarakat untuk menjalankan tugasnya membangkitkan kesadaran masyarakat dari kekuatan hegemonik yang sangat manipulatif dengan cara memberi pendidikan kutural dan politik dalam bahasa keseharian.

    Renungan Gramsci  banyak benarnya, bahwa semua orang adalah intelektual namun tidak semua intelektual menjalankan fungsinya. Hal demikian terjadi pada agen intelektual kita, aktifis kampus yang tidak sadar fungsinya hanya merasa cukup menjadi “Intelektual buatan” yang hanya terlihat sok-intelek di mata masyarakat. Seharusnya, tugas dari mahasiswa sebagai kaum intelektual adalah memperkuat posisi masyarakat sipil untuk mengakumulasi kekuatan blok solidaritas, yaitu masyarakat yang memiliki kesadaran kritis atas kondisi sosial,ekonomi dan politik dalam memperjuangkan hak-haknya sebagai masyarakat.

    Kembali kepemberdayaan, hanya ini cara bagaimana membuat mahasiswa dan masyarakat bersinergi agar kedua elemen tersebut tidak terasing antara satu dengan yang lainnya. Jadi, seorang aktifis haruslah intelektual yang menjalankan fungsinya bukan hanya berslogan di tepi jalan, ia juga harus terjun di lapangan dimana masyarakat jelas-jelas paling mengerti bagaimana kondisi kehidupannya. Lebih baik, mereka yang mau membela rakyat harus ingat sejak awal bahwa menjadi aktifis mahasiswa bukanlah hobi yang bisa saja berubah-ubah tergantung selera  atau perkerjaan yang penuh popularitas dan keberuntungan. Maka hal yang paling mendasar sekali dengan melakukan pemberdayaan masyarakat dalam hal apapun akan membuat aktifis mahasiswa memiliki padangan kerakyatan dan tanggung jawab sosial yang lebih besar karena mereka benar-benar terlibat langsung dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.

    Pengalaman dan berbagai cerita terkait pemberdayaan memang menunjukan bahwa proses tersebut sangatlah melelahkan. Tidak semudah melakukan aksi yang hanya kelar sehari. Pemberdayaan membutuhkan waktu yang lama, membangun kesadaran masyarakat agar paham betul akan hak-haknya sebagai warganegara tak semudah bertepuk tangan. Logis kiranya, bila ada perjuangan disaat bersamaan pasti ada pengorbanan. Namun, bila mahasiswa melakukan pemberdayaan membangun kesadaran msayarakat sebagai ujung tombak dari gerakan sosialnya, jangankan aksi pengerahan massa berskala besar untuk mendukung penolakan kebijakan yang tidak pro-rakyat bahkan meminjam perkataan Anies Baswedan, masyarakat sendirilah nantinya yang akan melakukan perjuangan menuntut pemerintah melunasi janji kemerdekaan.

    Maka, masih ingikah anda menjadi aktifis mahasiswa yang menjalankan fungsinya melalui pemberdayaan masyarakat? Mengingat sastrawan Pramoedya Anata Toer, ia berkata, “seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sejak dalam pikirannya, apalagi perbuatannya.” Berdasarkan perkatanya, rasanya tidak adil bila kita tidak menjalankan fungsi intelektual. padahal aktifis mahasiswa bisa kuliah pun karena disubsidi dari keringat rakyat.
     
    --
    Wildanshah
    (Founder Bhinneka Ceria
  • 0 komentar:

    Posting Komentar

    GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    ADDRESS

    4759, NY 10011 Abia Martin Drive, Huston

    EMAIL

    contact-support@mail.com
    another@mail.com

    TELEPHONE

    +201 478 9800
    +501 478 9800

    MOBILE

    0177 7536213 44,
    017 775362 13